• BATU MOLEN DAN KISAH KILANG GULA GEBANG (SEJARAH)

             

    Jenis Tradisi Lisan
    Nama Budaya BATU MOLEN DAN KISAH KILANG GULA GEBANG (SEJARAH)
    Tahun Pelaporan 2020
    Lokasi Lokasi
    status Lestari
    Pihak Pelestari Masyarakat
    Pencipta/Tahun Pembuatan Disdikbud 2020
    Sudah/Belum ada dokumen tertulis Ada
    Penulis
    Bahan
    Dimensi
  • Referensi Isi

    BATU MOLEN DAN KISAH KILANG GULA GEBANG


    Sebuah batu silindris berukuran besar tergeletak di sebelah pos ronda kampung Gebang Kota, Desa Gebang Kecamatan Masaran. Batu andesit ini bentuknya silindris dan ada lubang-lubang gerigi. Dicat hijau senada dengan pos ronda di sebelahnya.
    Menurut cerita warga sekitar, batu itu asalnya dari bekas pabrik jaman kolonial Belanda. Letaknya di pinggir sungai tak jauh dari pos ronda. Namun belum tahu pabrik apa. Ada yang mengatakan pabrik gilingan beras, tapi ada juga yang menyebut pabrik serat rami untuk bikin karung.

    Bekas pabrik itu saat sekarang sudah berganti menjadi pemukiman penduduk. Tepatnya di Gebang Loji. Dari nama ''loji'', sudah menunjukkan terdapat jejak histori berupa bangunan jaman kuno. Ketika menengok lokasi bekas pabrik, hanya sedikit tersisa bekas pondasi atau mungkin tembok. itu pun tinggal batu batu yang berserakan.
    Berbekal info dari warga tentang adanya pabrik jaman kawak, penulis membuka-buka sejumlah peta lama. Berusaha mencari petunjuk adanya bangunan yang biasanya berupa simbol atau huruf huruf tertentu. Benar saja, cerita turun temurun yang lestari di tengah warga ternyata bukan isapan jempol belaka.

    Dari dua buah peta lama, penulis menemukan indikasi bahwa di Desa Gebang memang pernah berdiri bangunan kawak di era kolonial. Peta lama yang pertama ditengok adalah terbitan tahun 1861. Memang benar ada gambar penanda bangunan di Gebang, letaknya persis di Gebang Loji saat ini. Namun, bangunan itu bukan (atau belum) berfungsi sebagai pabrik.

    Ada kode huruf TL, singkatan dari Tabaksloods alias gudang tembakau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
    Baru pada peta kedua, terbitan 1934, tertera gambar sebuah area bangunan cukup luas dengan rel lori, persis di sisi utara. Namun tidak ada keterangan SF, singkatan dari Suikerfabriek. Terjemahannya adalah pabrik gula.
    Meski tidak ada keterangan SF namun adanya gambar rel lori pada peta 73 tahun lebih muda itu mengindikasikan adanya area industri pengolahan di area tersebut.

    Posisi pabrik ada di timur jalan utama Gebang-Nguwer. Sedangkan di sisi barat jalan ada sebuah area lebih kecil, kemungkinan bangunan rumah atau kantor administratur pabrik. Rumah besar atau kantor ini biasa disebut Loji dalam istilah lokal.
    Klop dengan keterangan yang diperoleh penulis dari warga sepuh. Mbah guru Sri Wiyono, yang tinggal di Gebang Loji bercerita bahwa pasca kemerdekaan, Loji di sisi barat jalan itu menjadi salah satu sasaran yang diporak-porandakan oleh penduduk.

    Peristiwa ini adalah ekses dari perlawanan rakyat atas agresi militer Belanda yang ingin kembali menguasai bumi Indonesia. Setali tiga uang dengan loji, bangunan pabrik juga mengalami nasib yang sama, dijarah dan dikapling menjadi hunian penduduk.
    Batu molen itu termasuk yang menjadi jarahan massa. Dulu, ada dua buah batu molen dipindah dari area rerntuk pabrik ke tengah kampung Gebang Kota saat ini. Salah satunya dipecah menjadi pondasi rumah. Yang sebuah lagi diletakkan bersebelahan dengan pos ronda, dicat dan akhirnya menjadi penghias.

    Jalur rel lori (decauville) pada peta 1934 memberi petunjuk awal adanya aktivitas industri di Gebang. Jejak ini kian diperkuat dengan sisa-sisa struktur bangunan yang menurut cerita warga adalah bekas pabrik. Pun, batu bergerigi yang kini tergolek manja di Pos Ronda (Gebang Kota) tadinya berada di area pabrik, kemudian dipindahkan oleh warga ke lokasi sekarang. Juga diperoleh info dari warga Gebang Kota bahwa sebenarnya terdapat dua batu bergerigi dengan ukuran serupa, alias kembar. Namun, yang sebuah telah beralih fungsi menjadi bahan pondasi bangunan.

    Fokus perhatian kita selanjutnya pada batu bergerigi. Perkiraan awal batu silindris itu adalah komponen dari kincir air yang meneruskan sumber energi untuk menggerakkan mesin. Pada masa lampau, pabrik-pabrik lawas biasanya memanfaatkan aliran sungai untuk sumber tenaga penggerak mesin. Kebetulan, lokasi bekas pabrik yang telah menjadi pemukiman juga berada di pinggir sungai cukup besar, yakni Kali Mungkung.

    Namun, belakangan fungsi sebagai penerus daya gerak mesin itu patut dipertanyakan ulang, mengingat komponen yang terbuat dari batu andesit terlalu berat untuk digerakkan dengan air. Bahan batu yang berat menjadi tidak efisien karena kehilangan banyak gaya potensial

    Petunjuk datang dari Andjarwati Sri Sajekti, arkeolog Tim Ahli Cagar Budaya Sragen. Andjar menyebutkan batu bergerigi itu adalah komponen penggiling tebu. Berbekal keterangan Andjar, pencarian referensi pustaka soal bisnis penggilingan tebu di Jawa masa lampau pun dilakukan. Hasilnya tak mengecewakan. Sisik melik batu yang nganu itu pun pelan-pelan terkuak.

    Merujuk jurnal yang ditulis Libra Hari Inagurasi (2015) dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, diperoleh data bahwa komponen gilingan tebu (suikermolen) berbahan batu adalah teknologi yang tergolong tua. Batu bergerigi itu berfungsi menggiling atau memeras tebu untuk diambil airnya sebagai bahan baku pembuatan gula. Jenis batu yang digunakan adalah granit.
    Komponen ini telah digunakan industri gula di Batavia dan Banten pada rentang tahun 1600 hingga menjelang 1800 (abad ke- 17-18). Batu-batu gilingan tebu yang kemudian disebut molen itu datangkan dari Fujian Cina oleh para industriawan Tionghoa. Lalu melintasi Taiwan, kemudian Vietnam, hingga tiba di Pulau Jawa.

    Instalasi penggilingan gula masa itu jamak didirikan di tepi sungai. Selain memanfaatkan aliran air sebagai sumber penggerak, juga untuk memudahkan membuang sisa olahan tebu. Namun,skala industri ini umumnya berupa kilang gula milik perorangan dan tidak sebesar pabrik yang dioperasikan suatu perusahaan (Suikerfabriek). Nampaknya skala industri yang masih bersifat perorangan (kilang) inilah yang menjadi alasan mengapa di peta Gebang terbitan Belanda tidak tercantum kode S.F.

    Dugaan bahwa batu bergerigi di Gebang adalah alat penggilingan tebu semakin jelas ketika disandingkan dengan koleksi batu gilingan tebu milik Museum Situs Banten Lama dan Museum Gula Jawa Tengah.

    Di Museum Situs Banten Lama terdapat tiga buah batu silindris, memiliki gerigi yang dipahatkan pada salah satu bagian ujung atau tepian mengelilingi lingkaran batu. Batu tersebut terbuat dari granit dengan permukaan yang halus.
    Salah satu batu berukuran tinggi 65 cm dan bergaris tengah 71 centimeter. Gerigi berjumlah 13 buah. Di bagian muka yang menghadap ke atas terdapat sebuah lubang berbentuk segi delapan dengan kedalaman 18 centimeter. Lubang oktagon (segi 8) itu tepat berada di tengah-tengah.

    Sementara itu, Museum Gula Jawa Tengah yang berada di Pabrik Gula Gondang Baru, Klaten, mengoleksi alat-alat pembuatan gula tradisional berupa sepasang batu berbentuk silinder.
    Pada dinding sisi atas batu di Museum Klaten terdapat gerigi. Demikian pula terdapat lubang oktagon di tengah-tengah penampang muka yang menghadap ke atas.

    Batu gilingan tebu koleksi dua museum tersebut dapat menjadi data pembanding sebab bentuknya plek keteplek dengan batu bergerigi desa Gebang, Masaran,Sragen. Batu-batu tinggalan dari tiga lokasi itu sama-sama silindris, bergerigi di salah satu ujung batu dan melingkar mengelilingi batu. Selain itu memiliki lubang pada bagian permukaan atas dan samping. Hanya saja, gigi gerigi molen Gebang tampaknya telah sengaja diratakan. Berdasar artefak pembanding di dua museum itu, maka batu bergerigi di Gebang itu tak lain adalah batu gilingan tebu (suikermolen).

    Beberapa ahli arkeologi industri telah melakukan penelitian terhadap cara kerja batu gilingan tebu. Untuk itu, dapat merujuk hasil rekonstruksi kerja peralatan suikermolen yang telah dilakukan Subianto Rustandi, peneliti sejarah industri gula di Batavia. Ia merakit kembali beberapa artefak batu gilingan tebu hingga dapat berfungsi seperti semula.
    Sepasang batu gilingan diletakkan vertikal dengan gerigi saling bertaut di bagian atas. Keduanya didirikan di atas batu alas dengan penampang berbentuk bintang. Sebagai bantalan digunakan logam atau kayu agar batu gilingan tidak saling bergesek langsung dengan batu alas yang mengakibatkan kerusakan.

    Lubang oktagon (segi delapan) pada bagian permukaan atas batu digunakan untuk menempatkan besi atau kayu sebagai poros penggerak. Poros ini dihubungkan dengan lengan terbuat dari kayu atau besi, yang kerap disebut ‘’kuk’’. Pada ujung kuk tersebut diikatkan dan ditarik hewan (kerbau atau sapi) yang berjalan berkeliling. Kadangkala, bisa juga ditarik dengan menggunakan tenaga manusia.

    Ketika besi atau kayu poros ditarik maka kedua batu silindris tersebut bergerak dan berputar. Batang tebu yang akan digiling dijepitkan di antara dua buah batu silindris. Ketika dua buah batu digerakkan maka batang tebu akan tergilas dan mengeluarkan air tebu atau nira. Sebuah bak penampung dibuat atau ditempatkan di bawah batu silindris untuk menampung air tebu.
    Sebagai alternatif pemutar penggilingan, digunakan aliran sungai. Ini dimungiknkan jika lokasi kilang berada di dekat sungai, yang banyak undakan atau air terjun. Karena perbedaan ketinggian, aliran air bisa digunakan kincir untuk giling tebu.
    Sayangnya, di sungai samping pabrik Gebang, belum ditemukan adanya kontur sungai yang curam dan mengalir deras hingga mampu melayani kincir air untuk menggerakkan gilingan batu yang berat itu.

    SENJAKALA BATU MOLEN GEBANG

    Seiring revolusi industri pada abad ke-19, mesin-mesin uap untuk menghasilkan gula mulai diperkenalkan. Batu gilingan tebu pun perlahan ditinggalkan.
    Selain itu, pemberlakuan sistem tanam paksa dan perombakan tata kelola agraria oleh pemerintah kolonial pasca Perang Diponegoro telah mendorong liberalisasi pengelolaan tanah. Tak heran jika pabrik gula moderen banyak bermunculan di Jawa Tengah.

    Para penguasa Jawa wilayah Mataram pun mulai melirik peluang bisnis gula. Termasuk pula KGPAA Mangkunegara IV yang membangun pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu.
    Sedangkan di Sragen berdiri dua buah pabrik gula besar (suikerfabriek) yakni S.F. Modjo dan S.F. Kedoengbanteng (Gondang), yang dioperasikan pengusaha swasta asal eropa. Salah satunya adalah Willibald Dagobert van Nispen, si londo dhugdeng pengusaha perkebunan asal Kebonromo.

    Walaupun demikian, sampai paruh pertama abad ke-20 (tahun 1900-an) mesin-mesin uap belum sepenuhnya menggantikan batu gilingan tebu. Teknologi yang diperkenalkan pebisnis Cina di Batavia dan Banten abad ke-17 itu masih dipergunakan untuk skala industri lebih kecil. Pemandangan hewan ternak menarik lengan kuk suikermolen masih banyak dijumpai.
    Sebuah data foto lama dari KITLV Belanda menunjukkan penggilingan tebu milik Souw Siouw Keng di Parangkuda, Tangerang masih menggunakan batu molen pada 1905. Batu gilingan tebu juga masih dioperasikan di kilang gula Tulungagung, Jawa Timur pada 1936. Tak hanya di Jawa, pengusaha kilang Sumatera juga masih menggunakan batu molen pada 1912.

    Peralihan teknologi dan fungsi juga dialami pabrik Gebang. Sebuah cerita menarik diperoleh dari Sukardi. Warga Gebang Tengah itu mengungkapkan bahwa pabrik Gebang dimiliki seorang Belanda bernama Tuan Hoyer sejak era 1940-an. ‘’Sebelum agresi militer Belanda ke-2 (tahun 1948) sudah ada,’’ kata Mas Sukardi.
    Selain itu, menurut Sukardi, terdapat dua bangunan tempat tinggal di dekat pabrik. Sebuah rumah ditempati satu keluarga, sedangkan satu rumah lainnya dihuni beberapa keluarga.
    Saat dikelola Hoyer ini pula kilang gula sudah beralih fungsi. ‘’Pabrik difungsikan menjadi penggilingan padi dan pewarnaan serat nila,’’ terang Sukardi. Tak cuma itu, ada pula bagian bangunan menjadi gudang penyimpan tembakau dan pupuk kandang,

    Adapun batu molen terpaksa menyudahi kisahnya. Tuan Hoyer memutuskan beralih ke mesin penggilingan modern. Setelah bertahun-tahun beroperasi, pabrik dan loji ganti menemui takdir yang muram; porak poranda dalam kecamuk perang rakyat melawan agresi militer Belanda II.
    Versi sedikit berbeda diperoleh dari cerita Mbah Guru Sri Wiyono, warga Gebang Loji. Saat tentara Jepang masuk Sragen tahun 1942, orang-orang Belanda kocar-kacir menyelematkan diri ke tempat yang aman. Pabrik dan Loji yang kosong tak bertuan kemudian dijarah massa.

    Sayang, belum diperoleh data yang cukup untuk merunut siapa pemilik pertama kilang gula di Gebang. Pun, masih perlu melacak informasi soal peralihan suikermolen dari mengolah tebu berganti bahan baku lain. Demikian pula, kapan pertama kali pebisnis eropa menguasai instalasi industri Gebang beserta loji tempat tinggal.
    Begitulah, pabrik Gebang masih meninggalkan sejumlah misteri. Namun tinggalan kuno berupa batu gilingan tebu menunjukkan pernah terdapat aktivitas kilang gula di Gebang.

    Ketika pabrik gula besar dan modern dibangun di pusat kota Sragen, kilang gula Gebang tampaknya masih berjalan dengan komponen kuno itu. Namun produk akhirnya adalah perasan air tebu yang disetorkan ke S.F. Modjo untuk diolah menjadi gula.
    Batu gilingan juga mudah dialihfungsikan menggilas hasil bumi selain tebu. Batu molen dapat digunakan menggiling tanaman nanas untuk diambil seratnya. Juga bahan baku lain yang pengolahannya harus melewati proses penggilingan atau pemerasan.

    Menarik pula menelusuri keberadaan pecinan di sekitar Gebang atau pusat kota Kecamatan Masaran. Sebab, sebagaimana kota Batavia dan Banten, di sekitar kilang gula terdapat pemukiman orang-orang etnis Tionghoa / Pecinan (Libra Hari Inagurasi:2015).
    Jika pusat industri berkembang bersama aktivitas perdagangan di wilayah Kecamatan Masaran tempo dulu, tentu ada lokasi yang difungsikan sebagai tempat pembayaran bea pajak.

    (penulis: Johny Adhi Aryawan)

  • Deskripsi

    Komentar *
    Nama *
    b
    boapist
    2023-06-14 01:20:24
    Then 2 months with no period, return of menses in December no treatment with return of period due to office policy not to start treament during the holidays <a>where to buy cialis online safely</a> How to improve your high blood pressure
      
    B
    BlerceSic
    2023-03-24 14:58:53
    <a>otc provera clomid</a> a Echocardiograms were performed 12 days post treatment in estrous stage specific SHRs